Aku masih terpaku pada deretan bunga sepatu di hadapanku. Bunga yang
telah terkatup layu seiring dengan telah lamanya aku menanti seorang
pria yang mengajakku kencan di taman ini. Tiga puluh menit dari jadwal
janjian, terasa tak jadi masalah saat dari kejauhan terdengar seseorang
memanggilku. Namun saat kupalingkan wajahku, aku kecewa bukan main
ternyata hanya kegaduhan orang-orang disebrang jalan.
Kembali aku
fokuskan perhatianku pada rangkaian bunga dihadapanku. Sesekali kulirik
wajahku pada kaca mungil yang sengaja kubawa. Aku harus memastikan saat maman datang aku bisa terlihat lebih cantik. Soalnya dia adalah
laki-laki pertama yang aku persilahkan untuk mengajak diriku berkencan,
ya walau hanya di taman kota saja.maman adalah teman sekelasku yang
dua tahun terakhir ini aku idam-idamkan tembakannya. Padahal sebelumnya
waktu menginjak kelas satu SMA aku sangat tidak akur dengan cowok tengil
itu.
Tapi karena suatu moment saat aku cidera diperlombaan
basket antar sekolah, dia dengan gagahnya membopong tubuhku. Dari
kejadian itulah aku mulai mengalihkan fikiran jelekku kepadanya. Dari
yang tadinya evil yang paling dihindari, kini jadi sosok pangeran
penolong yang dinantikan kehadirannya.
Jarum jam telah menunjuk angka sembilan.
“Oh maman, setega itukah kamu? udah dua jam Nis hikss…..,” aku tejatuh
dalam tangis. Anganku telah hancur lebur karena sebuah janji yang tidak
ditepati.
Padahal masih hangat di memoriku, tadi siang saat jam
istirahat aku mendapati sepucuk surat beramplop merah jambu terselip di
mejaku.
Hi nitha…..
Malam ini aku haraf kita bisa ketemu….
Ada beberapa hal yang perlu aku sampein ke loe Mi….
Gw.. Eh aku ssssstunggu kamu jam tujuh di taman kota yaa….
Ada beberapa hal yang perlu aku sampein ke loe Mi….
Gw.. Eh aku ssssstunggu kamu jam tujuh di taman kota yaa….
-maman-
Ku ulang kembali hingga tiga kali, aku baca dengan super apik, terutama dibagian pengirim.
“Oh Tuhan, maman?” suasana bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku.
Nuansa kelas menjadi indah dipenuhi bunga warna-warni. Hingga seseorang
menepuk pundakku. Dan suasana kembali berubah menjadi kelas dua belas
saat jam istirahat. Sepi, dan terkapar tak berdaya buku-buku yang
dilempar majikannya.
"nitha….”
“Ehhh….. bella, kenapa bel?
“Loe yang kenapa? Dari tadi Gw intip dari jendela Loe senyum-senyum sendiri….”
“Loe yang kenapa? Dari tadi Gw intip dari jendela Loe senyum-senyum sendiri….”
Aku disuguhi pertanyaan yang membuat aku kikuk sendiri. Aku tidak bisa
membayangkan seberapa merah wajahkun saat itu. Yang pasti saat itu aku
benar-benar tertunduk.
“Eng….ngak ko bel, aku gak kenapa-napa”, sahutku gugup.
“Ya udah Gw mau ke kantin aja, mau ikut gak nit?”
“Oh gak, maksih aku gak laper.”
Aku segera membalikkan tubuhku, memburu kursi dipojokan kelas. Namun
baru beberapa langkah, hartaku yang paling berharga disabet oleh orang
dibelakangku.
“ehhhh..”
“Haaa… ternyata ini toh yang bikin Loe jadi gak laper? Hahhahah…”
“bella kembaliin!” ku rebut kembali kertas berharga itu.
“Yah Loe ini nit, sekalipun Gw gak baca tapi Gw udah tahu isinya apaan.”
“So tahu kamu!”
“Ya Gw tahu, itu surat dari maman kan? Dia ngajak kencan? Soalnya
nanti malam dia mau……” omongan bella tertahan dengan kedatangan seseorang
yang dari tadi dibicarakan.
“maman…..” sahut ku dan bella kaget.
“Aduh hampir saja” bisik bella pelan.
“Kenpa bel?” tanyaku penasaran.
“Ohh enggak! Gw kayaknya ngedadak gak mau kekantin deh!”
“Lantas loe mau kemana bel?” tanyaku semakin heran.
“Ke WC ya bel? ya udah sana!” tangkas maman plus kedipan kecil dimata kirinya.
“Oh ya bener, hhehhe”
bella telah berlalu, sekarang tinggal aku dan maman.
“Gimana?” Tanya maman.
“Gimana apanya nit?”
“Tuu…” tunjuknya ke arah kertas dijemariku.
“Oh oke deh aku mau”
“Ya udah Gw cabut dulu ya!” sahutnya salah tingkah.
“Oh ya…” aku tak kalah salting.
Perlahan maman meninggalkan kelas, namun sebelum dia benar-benar pergi dia memanggilku.
“Hmmm…. bel jangan ampe telat ya!”
“Ok sipp!”
“Awas loh”
“Iya bawel”
***
***
Dengan berurai air mata dan kecewa, aku putuskan untuk pulang kerumah.
Sesampainya dirumah aku semakin kacau dengan disuguhi omelan Bunda, yang
malah bikin hatiku semakin hancur saja. Beribu pertanyaan Bunda
menghujani aku.
“Dari tadi kamu kemana saja?”
Aku hanya terdiam kaku tanpa menjawab pertanyaan Bunda.
“Jawab!” kali ini nada suara Bunda meninggi,
”Kamu tahu? anak perawan gak baik keluyuran jam segini!” sambung Bunda.
Aku masih tak memberikan respon apa-apa.
Plakkk
Sebuah tamparan menggores pipiku, “Oh Tuhan sakit sekali” bisikku dalam hati.
“Bunda jahat!” aku segera masuk kekamar, kututup rapat pintu kamarku.
Malam ini sungguh menjadi malam yang paling berat untukku. Ini adalah
kali pertama Bunda menampar dan memarahiku. Belum lagi dengan perasaanku
yang masih kecewa karena kencan pertamaku gagal, karena maman tak
hadir diundangannya sendiri.
“Oh Tuhan, semalang itukah nasib ku?”
Aku kembali terhanyut dalam tangis, hingga akhirnya aku tertidur pulas.
***
***
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Fikirku
sudah matang, sesampainya disekolah akan ku beri tamparan mereka berdua.
“bella sama maman itu dari mulai sekarang bukan temanku lagi, teman
macam apa mereka? Berani ngerjain aku ampe separah itu!” gerutuku kesal
Kakiku masih mengayuh, menyusuri pinggiran jalan kota yang ramai. Namun
saat aku melewati Taman Kota kakiku serasa tertahan, aku mengingat
peristiwa tadi malam.
“Cuihh….. aku bakalan balas semua rasa sakitku tadi malam!” aku kembali bergerutu kesal.
Aku samakin kesal saat aku menyadari banyak kelopak bunga mawar berantakan diruas jalan.
“Apa-apaan nih, mereka kira aku lagi jatuh cinta apa?” dunia pun seakan
menertawakan rasa sakitku dengan menabur bunga di jalanan yang aku
lewati ini.
Aku berlari kencang meninggalkan keanehan yang
membuat aku semakin gila. Tak membutuhkan waktu yang lama aku telah
sampai disekolah.
Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari dua
orang biadab itu. Tiga puluh menit telah berlalu, aku sudah
mengubek-ubek isi sekolah tapi hasilnya nihil, keduanya hilang bak
ditelan bayang. Hingga bell masuk pun tiba, tapi keduanya tak kunjung
masuk kelas. Sampai pelajaran dimulai, baru sepuluh menit seseorang
mengetuk pintu kelas. Aku terperajat kaget “Aku haraf itu maman atau bella”. Tapi ternyata bukan, dia adalah Bu Jen, wali kelas kami.
“Pagi anak-anak”
“Pagi Bu……” jawab murid hamper serempak.
“Pagi ini ibu dengan berat hati akan mengabarkan kabar duka kepada
kalian”. Semua anak kelas dua belas terlihat tenang mendengar penjelasan
Bu Jen.
“Salah satu teman kita, maman. Semalam mendapat
musibah, dia mengalami kecelakaan yang cukup parah, hingga nyawanya
tidak dapat tertolong”. Suara Bu Jen semakin melemah.
Suasana
berubah menjadi pilu, tangisan mulai tumpah ruah dimana-mana. Aku
sendiri terpasung dalam diam, jantungku berdegup dalam kisah sedih yang
tak tertahankan.
“mamannnnnnnn!!!!!”
Aku berteriak
sekencang-kencangnya, aku berlari dan terus berlari. Hingga akhirnya aku
telah bertepi di ruas jalan di dekat Taman, dimana aspal dipenuhi
kelopak bunga yang telah layu diinjak pengguna jalan.
“Oh Tuhan ternyata kelopak bunga ini dipenuhi cipratan darah”
Diri ini semakin berguncang hebat, saat aku temui secarik kertas.
Dear……
nitha (Calon Kekasihku)
From :maman
nitha (Calon Kekasihku)
From :maman
Kertas kotor bernoda darah itu aku peluk sekuat-kuatnya.
“maman…..Hiks” kepala ini semakin tak tertahan, dan akhirnya aku terkapar dalam ketidaksadaran.
***
***
Mata ini pelan-pelan mulai menatap jelas orang-orang disekelilingku. Ku
lihat dengan pasti wajah Bunda dan bella penuh dengan kehawatir dan
penasaran.
“nitha kayaknya udah sadar Tant”
“Iya”
“Aku kenapa Bund?” tanyaku dengan nada berat.
Bunda dan bella menatapku pilu. Aku mulai mengingat deretan kejadian sebelum aku terkapar dalam tempat tidur ini,
“mann….” Ucapanku terhenti karena sentuhan telunjuk Bunda di bibirku.
Bunda menganggukkan kepalanya petanda mengiyakan setiap halus ucapanku,
“Iya, kamu yang sabar ya nak”
Lagi-lagi aku terpaku dalam diam, hanya linangan air mata yang mengalir deras dipipiku.
bella memeluku erat,
bella memeluku erat,
“Maafin Gw ya nit, Hiks… Gw tahu, Gw gx mampu jaga maman buat Loe.”
“Hiks…… maman”
***
***
Satu minggu sudah aku mengurung diri dikamar, tanpa bicara dan tak ingin brtemu siapa-siapa.
Tukk tukkkk…..
Seseorang mengetuk pintu kamarku
“nitha , nih ada Nak bella pengen ketemu kamu.”
“Pergi Kamu!!” bentakku kasar, dan lemparan bantal tepat mendarat diwajah bella saat Bunda membuka pintu kamarku.
“nit ini Gw, bella”
“Pergi kamu!!! Kamu yang udah bikin maman meninggal!!!”
“Ya Gw nit, Gw yang udah ngasih buku Diary loe itu ke maman, yang
membuat maman sadar tentang semua perasaan Loe ke dia. Tapi asal Loe
tahu Diary Loe itu juga yang bikin maman sadar kalo cintanya gak
bertepuk sebelah tangan!”
“Jadi maman……..” ucapanku terhenti, perlahan aku mendekati wajah bella yang basah karena air mata, “Bohong!” bentakku bringas.
“Gak nit!”
“Alah itu akal-akalan kamu aja, biar aku enggak ngerasa terhianati” sahutku sinis.
“Gak nit, Loe gak sadar waktu malam itu maman terlambat tiga puluh
menit, dia terus manggin-manggil Loe, tapi Loe gak denger,” ucapannya
terhenti, sesaat bella mengambil nafas panjang “Loe malah sibuk sama
riasan Loe itu, sampai akhirnya dia tertabrak karena lari kearah Loe!”
“Bohong!”
“Tidak! Gw liat dngan mata kepala Gw sendiri, Gw yang anter maman ke
Taman karena dia kelamaan milih bunga di toko bunga nyokap Gw.”
“maman….Jadi”
“Jadi gak ada yang terhianati disini, maman bener-bener cinta sama Loe nit! Pliese Loe jalani hidup Loe lagi, buat maman nit!”
“Hiks…….”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar