Selasa, 18 November 2014

novel First Love dilemma bagian 1

SANG WAKTU

  Waktu adalah hal yang paling kejam yang pernah ada sepanjang peradaban hidup manusia. dia bisa berjalan begitu saja, tak peduli kita sedang sedih ataupun gembira. dan dia bisa memberi kita sebuah hari baru yang bisa jadi merupakan hari terakhir kita melihat orang-orang yang kita sayangi. atau, dia bisa juga membawa pergi segala hal yang sedang kita nikmati.
  Azura kembali merenung sambil melihat tetes demi tetes hujan yang turun melewati jendela kelasnya. dalam benaknya, dia tak akan pernah melupakan hari itu. hari ketika semuanya berakhir, hari ketika dia tak pernah bisa lagi tersenyum lega. Entah kapan azura bisa melupakan semuanya dan tersennyum pada masa suramnya itu.
   Hari ini, sudah genap sepuluh bulan setelah kejadian itu. Dan selama itu pula azura sama sekali tak pernah berhenti menunggu sebuah keajaiban. Sebuah keajaiban yang mungkin akan mengubah semuanya seperti semula. Bahkan, seringkali Azura berpikir ini cuma mimpi buruk yang sering mengganggu tidurnya, dan saat dia terbangun dari impi itu semua pasti akan normal kembali.
    Tapi, rasanya terlalu rumit untuk dibilang hanya sebuah mimpi  buruk yang dialaminya ketika tidur. Sepuluh bulan bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu Azura terus menunggu, menunggu, dan menunggu.
    ''Azura, bisa kamu maju dan mengerjakan soal yang baru saja saya jelaskan tadi?'' tanya Bu Christin yanhg sedang mengajar matematika dikelas .
     Tanpa banyak bicara Azura maju dan mengerjakan soal yang ada dipapan tulis. Sudah kesekian kali Azura selalu disuruh mengerjakan soal dipapan tulis oleh guru yanhg sedang mengajarnya. Itu karena guru-guru disekolahnya sudah tau bahwa Azura murid yang suka seklai melamun dikelas.
     ''Lihat tuh, si cewek aneh mulai melamun lagi. Ngga tau apa dari tadi Bu Christin ngajar kita sampe berbusa-busa?'' kata seorang ewek berambut panjang dan bermuka bule, ketika Azura sudah membelakangi teman-temannya untuk mengerjakan soal yangt ada dipapan tulis.
      ''Yang gue tau, kalo orang suka ngelamun dan berdiam diri kayak begitu, itu tanda-tandanya anak autis!'' sahut cewek yang duduk di di depan cewek berwajah bule itu.
        ''Autis? Ih, serem ya! Apa ngga diperhatiin orang tuanya ya, di rumah?''


      Bagi Azura, berangkat ataupun pulang sekolah rasanya sama saja. Dia sama sekali ngga melihat perbedaan di antara keduanya, ngga akan ada lagi sebuah senyum hangat yang menantinya saat pulang sekolah. Ah, sudahlah, memikirkan semua itu membuat Azura geram sendiri.
      Saat ini Azura sedang menanti papanya menjemputnya disekolah. Sepertinya papa Azura masih ada meeting di kantor bersama kliennya, mengingat ini hari rabu, hari meetinng rutin minggan di kantor papanya itu. Azura bosan menunggu tanpa melakukan apa pun. Apalagi, di luar hujan sedang turun dengan sangat deras.
    Maka, untuk pertama kalinya Azura memuntuskan untuk pulang kerumah sendiri tanpa dijemput papanya. Hujan yang sangat deras di luar tidan menghalaingi niat Azura. Untung hari ini Azura membawa payung lipat sehinnga bajunya nanti ngga bakal terlalu basah tersiram air hujan.
    Dengan mantap Azura keluar dari halaman sekolahnya. Dan, ketika atap sekola sudah tidak lagi melindungi dirinnya dari air hujan, Azura membuka payung lipatnya dan mulai berjalan meninggalkan sekolah.
    Jarak dari sekolah ke rumah Azura tidak terlalu  jauh, tapi juga tidak terlalu dekat. Bila naik angkutan umum harus dua kali ganti kendaraan dan bisa makan waktu sekitar tiga puluh menit. Tapi, kalau naik taksi hanya sekitar dua puluh menit dia sudah sampai di rumah. Karrena saat ini ngga ada angkutan umum yang melintas, Azura memutuskan untuk naik taksi.
    Selang beberapa menit kemudian, saat taksi yang Azura tumpangi sudah memasukik kompleks perumahan tempat tinngal Azura yang terkenal elite, dia memutuskan untuk turun di taman dekat rumahnya saja. Azura merasa lalas pulang kerumah karena engga ada siapa-siapa di rumahnya. Dia malas tinggal sendirian dirumah.
    Setelah turun dari taksi, Azura mulai memasuki taman itu. Tentu saja taman itu sepi, tak ada seorangpun yang tampak. karena, meskipun sekarang hujan sudah tidak sederas tadi da kini tinngal rintik-rintik kecil, sudah pasti tak ada orang yang iseng main-main ke taman saat cuaca tak bersahabat itu. Sebelumnya, Azura sama sekali tak pernah pergi ke taman di dekat rumahnya itu. Salah satunya karena baru tiga bulan Azura tinggal di kompleks perumahan itu.
    Taman itu memang indah. selain ada ayunan, perosotan, dan mainan-mainan lainnya, ada juga kincir angin ditiap pinggir taman. ditengah taman ada air mancur mini yang membuat taman itu terlihat sangat sempurna. persis taman-taman diluar negri yang sering Azura tonton di film-film.
    Setelah puas berkeliling taman, akhirnya Azura memutuskan untuk duduk didekat air mancur ditengah taman. didekat air mancur mini itu ada bangku taman berwarna cokelat. saat Azura mulai mendekati bangku taman itu, tiba-tiba dilihatnya sesosok manusia yang tergeletak persis seonggok mayat!
    Azura merasa takut sekaligus penasaran. Kenapa ada orang yang tidur di bangku taman itu? atau jangan-jangan orang itu sudah mati gara-gara dibunuh? jangan-jangan pembunuhnya masih berkeliaran di sekitar sini! pikiran-pikiran negatif mulai menghantui  pikiran Azura.
    Dengan pelan tapi pasti Azura mulai mendekati bangku taman yang kemungkinan ada mayatnya itu. Setelah persis berada disebelah orang itu, dengan takut-takut Azura memberanikan diri memegang bahu orang berjaket hitam itu lalu mengguncang-guncangnya.
    ''Bangun-bangun! kamu ngga mati kan?'' Tanya Azura sambil masih mengguncang-guncang orang itu.
      Orang itu merespons dengan bergerak sedikit akibat guncangan Azura tadi. Dan itu membuat Azura kaget sekaligus lega. Kaget karena orang itu ternyata masih bisa bergerak. Lega karena dia tidak harus menemukan mayat di taman seindah itu. Lalu orang itu membuka tudung jaket yang menutupi wajahnya. Ternyata seorang cowok!
    Wajah cowok itu pucat dan putih sekali. entah karena apa. tapi cowok itu tampak menarik dengan mata teduhnya, alis tipisnya, hidung mancungnya, dan wajahnya sedikit tampak seperti orang eropa tapi ada unsur Asia-nya, juga rambutnya yang berwarna kecoklat dan sedikit acak-acakan itu/ rambutnya mirip sekali dengan Chane Crawford, model Inggris yang sedang naik daun.
   ''Tadi kamu bilang apa? aku ngga denger.....,'' ucap cowok itu dengan suara halus.
    '' Ya ampun! aku kira tadi aku ngeliat mayat! Ternyata masih hidup...!'' jawab Azura sambil masih memandangi cowok itu dengan seksama.
    '' Kamu itu lucu deh. Masa orang lagi tidur dikira mati.Tadi itu aku lagi tidur, tau!'' ujar cowok itu sambil tersenyum manis. Senyum yang dapat meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.
     ''Tapi, kamu itu tidur ditempat yang salah! orang-orang yang ngeliat kamu juga bakal kamu itu udah jadi mayat!'' omel Azura.
      Sekali lagi cowok itu tersenyum dengan senyum innocentnya. ''Hahaha...., kamu itu lucu.''
      Aku ini serius, tau!'' seru Azura sambil berkacak pinggang dan menunjukkan raut marah. Tapi, diam-diam Azura penasaran. Kenapa sedari tadi tangan cowok itu terus memegangi bagian bealakang pinggang kanannya?
       'Tadi aku kehujanan, terus karena ngga ada tempat berteduh, ya aku berteduh di sini aja. Terus karena suasananya mendukung, ya udah, jadi ketiduran deh...,'' ujar cowok itu sambil masih memegangi bagian belakang pinggang kanannya.
       "Kamu tidur ditempat yang salah dan waktu yang salah" kata Azura lagi.
       "kalo tempat, aku yakin ini tempat umu, jadi siapa saja pun boleh-boleh aja main kesini. kalau soal waktu, aku rasa waktu itu selalu salah," kata cowok itu, masih dengan suara halusnya.
      Azura heran dengan jawaban cowok itu. Apalagi soal waktu. cowok ini punya paham yang sama dengan Azura tentang waktu. waktu adalah hal yang kejam  dan selalu salah. dalam artian, waktu selalu membawa pergi hal-hal yang sedang kita nikmati.
    "maksud kamu?" tanya Azura sambil duduk disebelah cowok itu.
    "kamu tau, waktu adalah hal yang paling kejam sepanjang peradaban hidup manusia. Dia bis aberjalan melewati kita tanpa kita tau apakah dia sudah melewati kita....''
    ''Atau, dia bisa dengan gampangnya membawa pergi semua hal yang sedang kita nikmati....,'' Azura menyambung kata-kata cowok itu.
    ''Loh, kamu juga tau itu? kamu jug abenci sama waktu?'' tanya cowok itu.
    ''Mungkin orang-orang bisa menganggap aku aneh kalo aku bilang aku benci sama waktu. Karena, waktu bisa berganti dengan cepat tanpa memangdang siapa pun orang yang merasakannya....'' Azura memandang jauh kedepan sambil mengungat kejadian itu.
    ''Memamng aneh lho.... Soalnya kita berdua sama-sama membenci dia, sang waktu. Sesuatu yang abstrak yang ngga bisa dijelaskan dnengan bahasa apa pun, tetapi merupakan sesuatu yang absolut.''
    ''kok pemikiran kamu tentang waktu sama persis kaya aku ya? baru kali ini lho, aku ketemu sama orang yang sepaham sama aku, apalagi soal dia, sang waktu. Tapi kalo boleh tau, kenapa kamu bisa benci banget sama waktu? selain alasan-alasan tadi yang kamu bilang....''
    Hmm... menurut aku sih, waktu telah membuat aku tidak bisa melihat perubahan. Krena waktu juga aku lupa akan sesuatu yang bersifat 'lama' tadi.''
    ''Maksudnya? Gini deh....''
    Saat cowok itu hendak melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba dari arah belakang muncul papa Azura dengan wajah sangat panik bersama dua orang satpam kompleks.
    ''Ara, papa pikir kamu hilang kemana! papa tuh khawatir banget! lagian, selama ini kamu kan ngga pernah pulang sendiri, selalu papap jemput. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?apa bisa mati deh!'' kata papa sambil memeluk Azura setelah sebelumnya memegang kedua pipi Azura.
    ''Buktinya, sekarang aku nggak kenapa-kenapa, kan? lagian, papa jemputnya lama banget sih! dikira ngga bosen apa nungguin papa?''
     ''Ya maaf deh, sayang....,'' kata papa seraya melepaskan pelukannya lalu berbalik kepada dua satpam yang telah membantunya mencari putrinya tadi. ''Oh iya, pak, terima kasih sudah membantu saya mencari anak saya.''
      "Oh, nggak apa-apa, pak. tadi kebetulan aja Pak Hengky ngeliat anak Bapak naik taksi terus turun ditaman ini," kata seorang satpam yang didada kiri seragamnya tertera nama "SUPARMAN".
      Ketika Azura berbalik untuk melihat cowok yang ditemuinya tadi, cowok itu sudah menghilang. Dari kejauhan Azura melihat cowok berjaket hitam dan berjelana jins panjang itu tersernyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. padahal tadi Azura belum sempat berkenalan dengan cowok itu, yang untuk pertama kalinya bisa membuat Azura membalas senyum seseorang, dengan senyum yang setelah sekian lama baru bisa muncul lagi di bibirnya.

    Sejak kemarin malam, pikiran Azura terus melayang-layang. Anehnya, memori diotaknya nggak lagi memutar flash back kejadian sepuluh bualn yang lalu, tapi malah kejadian kemarin sore ditaman itu. saat Azura bertemu dengan seorang cowok yang awalnya dikiranya seonggok mayat.
    Bahkan meskipun sekarang sedang istirahat dan kelasnya sedang ramai, azura masih penasaran soal jati diri cowok itu. kenapa kemarin aku bisa lupa sekedar bertanya siapa namanya? terlalu asyik ngobrol sih! keluh azura dalam hati.
    "Justin! cepet, balikin stabilo ke kotak pensil gue! sejak kapan ya, lo minjem barang-barang gue tanpa bilang dulu ke gue?!" seru Thalitha dengan suaranya yang memang terkenal keras dan ngalahin toa mana pun.
     Kelihatannya Azura membutuhkan tempat yang tenang untuk memplash back kembali kejadian kemarin sore. karena, siapa tahu dia bisa sedikit mengingat ciri-ciri cowok itu dan mungkin bisa menemukannya kembali. maka, azura memutuskan untuk keluar dari kelas dan mencari tempat yang sepi disekolah itu.
    Baru sekitar tiga setengah bulan Azura bersekolah di Golden High School. sekolah itu adalah sekolah favorit, sehingga peminatnya banyak. lagi pula, sekolah itu memang keren banget dengan segala fasilitasnya yang lengkap. tapi, bagi azura, sekolah keren itu hanyalah sebuah panggung sandiwara. kenapa dibilang begitu? karena menurutnya, setiap orang yang ada disana seakan hidup dengan topeng dan bisa disebut mereka semua munafik. kebanyakan murid-murid disitu memang berasal dari keluarga yang berkecukupan, tapi kelihatannya otak mereka sama sekali tidak berkecukupan untuk memahami satu sama lain. azura belum pernah merasa nyaman bergaul dengan teman-teman sekolahnya itu.
    Akhirnya, azura pergi keatap sekolah. disitu dia bisa merasakan angin sepoi-sepoi yang selalu bisa membuatnya melupakan segala hal yang sedang berkecamuk dihatinya.
    Ketika sudah sampai diatap sekolah, azura melihat seorang cowok sedang duduk sambil memandang lurus ke pagar pembatas atap sekolah. pagar itu dibuat untuk menantipasi agar tidak yang jatuh. atap sekolahnyta itu memang sepi. biasanya cuma azura yang mampir kesitu. diatap itu cuma ada sebuah bak air besar berwarna oranye yang digunakan sebagai penampung air disekolahnya.
    Azura mendekati cowok sedang duduk dibangku itu. wajah cowok itu. wajah cowok itu tertutup topi hitam, sehingga azura tidak bisa melihat dengan jelas wajah cowok itu. tapi, kali ini azura tidak mau mendekati apalagi mencolek dan membangunkan cowok yang tampaknya tertidur sambil duduk itu. kali ini dia nggak mungkin melihat orang yang dikira mayat lagi seperti kemarin!
    kedua mata azura terpejam menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembu diatas sekolahnya siang ini. angin itu dengan lembutnya membelai rambut hitam panjang azura yang hari ini digerainya. rasanya menyenagkan jadi angin, bisa dengan ringan dan bebas pergi kesana-sini.Apakahmungkin angin bisa pergi ketempat mama berada sekarang? tanya azura dalam hati.
    "ternyat ada orang. aku pikir dari tadi yang berdiri disebelah akku itu hantu. ternyata kakimu menjejak ketanah juga toh....?!"  seru cowok itu yang tiba-tiba berbalik, dengan suara yang azura kenal.
    "Lho, kamu?! kita ketemu lagi....!" seru azura antusia.
    "eh iya! ternyat kamu anak sini juga? kemarin kita belum sempat kenalan. nama kamu siapa?" tanya cowok itu sambil membetulkan topi hitamnya kemudian menyodorkan tanga kananya.
    "Azura Cresentia. kamu?"
    "nama kamu indah, ya. aku Tristan. kayaknya aku baru liat kamu deh. baru masuk juga?"
    " iya aku b aru kelas 10. kelas 10-2. kalau kamu?"
    "aku 12-IPS-1. oh, jadi kamu masih kelas 10...?"
    "iya. akku pikir kamu kelas 10 juga, ternyata kamu udah kelas 12."
     Tristan bangun dari tempat duduknya kemudian  berdiri di sebelah Azura. ''Untung bisa ketemu lagi. Kalo ngga, aku bingung deh gimana nyari kamu. Bisa aja aku jadi penunggu setia taman kompleks kita itu, berharap suatu waktu kamu bisa memuin aku lagi di situ.''
     Azura memang bukan tipe cewek gengsian. Kalau saat itu dia bilang A, dia ngga akan menyembunyikannya. Maka, saat ketemu Tristan, Azura ngga malu-malu menunjukkan keantusiasannya.
    ''Kamu itu bisa aja deh. kita punya kesamaan lagi lho. sebelumnya ngga ada orang yang pernah ke sini selain OB sekolah. Makanya, aku seneng banget di sini. soalnya tempat ini nyaman banget....!'' kata Azura.
     ''Aku juga baru nemuin tempat ini. Kayanya enak, bisa melepas kepenatan dan ngereasain angin sepoi-sepoi yang lembut.''
      ''Baru nemuin? kamu itu kan udah dua tahun lebih sekolah di sini, masa baru sekarang sih nemuinnya?''
      Aku belum bilang ya, kalo aku anak pindahan? baru dua hari yang lalu aku pindah  kesini. kita punya kesamaan lagi ya....., sama-sama baru di sini,'' kata Tristan.
      ''Sebelumnya kamu sekolah di mana?
      ''Di negeri nan jauh di sana.''
      ''Ya..., tapi di mana?! Negeri antah-berantah yang ngga ada namanya?'' tanya Azura asal.
      ''Bukan...., maksudku di inggris,'' kata Tristan sambil menoleh ke arah Azura dan mulali mengamatinya.
      Azura tingginya sebahu Tristan, wajahnya manis, kelihatannya enak dipandang dan ngga ngebosenin, dan Tristan sangat menyukai mata Azura. Mata hitam dan sedikit sipit yang ketika senyum menimbulkan dua guratan manis di sekitar matanya.
      Azura sama sekali tidak menyadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan penuh perhatian. sekarang yang Azura rasakan hanya perasaan yang tak pernah di rasakan lagi sejak sepuluh bulan yang lalu.
      Apakah kali ini sang waktu nerbaik hati memberinya sebuah keajaiban yang sejak hari itu dinantinya?
      Suatu hari pada sepuluh bulan yang lalu adalah sebuah hari yang begitu menyayayt hati Azura. Hari saat semua keceriaan Azura hilang tanpa bekas. Hari itu mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya untuk selama-lamanya. Dan, saat Azura membuutuhkan seseorang yang bisa menghiburnya karena kepergian mamanya yang sangat tidak terduga itu, orang itu justru menghilang juga dari hadapannya tanpa penjelasan apa pun....! Maka, setiap hari setelah hari itu Azura selalu berharap akan ada keajaiban dalam hidupnya kelak.
     Sekarang Azura nggak mau mengambil kesimpulan dengan cepat tanpa keakuratan yang psti. Bisa saja ini lagi-lagi siasat sang waktu untuk membuatnya kembali menderita. Yang ingin Azura lakukan saat ini hanyalah mengikuti sang waktu agar dia bisa memahami apa yang terjadi sebelum terlena dan kemudian terluka lagi.
      ''Tristan, bentar lagi bel nih, Kamu nggak mau telat kan, pada hari ketiga kmau sekolah? Bisa-bisa kamu dicap anak bandel sama guru-guru sensitif di sini.''
     ''Lho, memang aku itu aslinya bandel banget! belum tau aja kamu.''
     ''Makanya, nanti jam lima sore aku tunggu di taman supaya kamu bisa cerita semua tentang dirimu. Udah yuk, cepetan turun...!'' ajak Azura.
     ''Aku baru tau lho, kalo cewek-cewek di sini agresif. Masa ngajakin cowok nge-date duluan? Harusnya kan cowo yang.....''
      Belum selesai Tristan mengucapkan kata-katanya,Azura keburu menarik tangan kananya untuk turun ke bawah san kembali ke kelas. Azura penasaran sekali tentang Tristan. Entah kenapa Azura bis merasa seperti itu, begitu penasaran pada satu objek. Mungkin karena Azura dan Tristan memiliki paham yang sama tentang hal yang sama-sama mereka benci? Tristan seperti sebuah misteri baru yang masuk ke kehidupan Azura.
       Entah apa pun itu yang mengusuk pikiran Azura, dia sangat menanti-nantikan waktu bergulir dengan cepet sampai menunjukkan pukul lima sore. Waktu yang telah ditetapkan Azura pada Tristan tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar