Setiap manusia memiliki ceritanya sendiri tentang cinta. Dan di
setiap perjalanan cinta selalu ada rintangan dan hambatan di depannya
sampai akhirnya kita menemukan titik ujungnya. Ada yang berakhir manis
dan ada juga yang berakhir pahit. Dan inilah ceritaku tentang perjalanan
cintaku. Hanya cerita simple tapi berkesan untukku. Cerita ini di mulai
saat aku berada di sebuah taman di dekat sekolahku.
Mentari mulai terbenam, namun mentari memninggalkan keindahan sebelum
dia pergi. Aku duduk di bawan pohon beringin sambil melihat keindahan
yang terpesona.
“Ega!”
Seseorang memanggilku dari kejauhan. Mataku terlepas dari mentari dan
menengok ke belakang, melihat siapakah pemilik suara manis itu. Dan
ternya seorang wanita berparas bidadari. Seseorang yang mampu
mengalihkanku dari keindahan sunrise, menyamai keelokkan sayap kupu-kupu
yang cantik dan mengalahkan kecantikan bunga mawar. Dialah penyempurna
hidupku dari semua kekurangan yang aku miliki. Tia, Yustia Anggraini.
Itulah nama gadis itu. Wajah cantik, kulit putih, rambut panjang plus
poni yang menutupi dahinya, dan yang paling aku suka, lesung pipit di
kedua pipinya. Aaagggkkkh!! Perfect lah pokoknya. Dia tersenyum padaku
lalu duduk di sampingku.
“Indah banget ya”
“Iya, Memberikan warna di langit yang tadinya monoton”
Tia tersenyum dan menghela nafas.
“Emm, Tia, aku mau nyatakan sesuatu sama kamu”
“Apa itu? Eh, Kok kamu keringatan?”
“Eh, masa? Mungkin karena panas kali ya?”
“Ya? Rasanya gak terlalu panas kok. Kita kan di bawah pohon?”
“Oia bener juga ya. Ha.. Ha..Ha..” Kataku sambil Ketawa maksa
Gugupku benar-benar sampai puncaknya, Ini benar-benar bodoh, yang ku
kira hanya bisa disampaikan dengan waktu 3 detik ternyata sangat berat
banget. Hatiku mulai tidak tahan lagi tapi bibirku masih terus saja
menghalangi.
“Ayolah ega, Ungkapkan sekarang. Jika tidak kamu akn menyesal seumur hidup” Kataku dalam hati.
“Menyesal? Menyesal kenapa ga?” Kata tia dengan wajah penasaran.
“Heh? Kok kamu bisa baca pikiranku?” Terkejutnya aku saat dia berkata begitu.
“Pikiranmu itu terlalu transparan jim. Hahaha” Kata tia sambil tertawa
“Beneran? Aduh jadi malu”
“Oia. Sebenarnya kamu mau ngomong apa ga?”
“Jiah, jadi lupa. Apa ya?” sebenarnya aku pengen ngomong Cuma perasaan gugupku terlalu menahanku.
“Sebelumnya aku bingung kenapa kamu ngajak aku kesini, Tapi melihat
sikapmu, Kegugupanmu itu. Aku jadi tau kamu mau ingin mengatakan apa.
Bener-bener sebuah kejutan banget bagiku. Dari pertama kali kita bertemu
sampai sekarang aku seneng banget. Bisa kenal sama kamu dan dekat sama
kamu. Tapi kalau kamu mau bilang kalau kamu suka sama aku. Maaf, aku gak
bisa nerima kamu”
“Heh! Kenapa?”
“Aku sudah ada yang punya ga, jadi aku gak bisa menjalin hubungan dengan orang lain lagi”
“Kalau aku nunggu kamu gimana?”
“Lebih baik jangan, Aku takut kamu akan lebih sakit daripada ini. Masih
banyak cinta di luar sana, kamu bakal dapat cinta yang lebih baik.
Haaaahh. Matahari terbenam itu memang indah ya? Oke. Aku mesti pulang
nih, Dah”
Aku terdiam membisu, Melihat pujaan hati perlahan meninggal aku sendiri.
Setelah Tubuhnya telah lenyap dari pengelihatanku, aku pun berteriak.
“Mengapa! Mengapa! TIDAAAAAKK!!!”
Aku pun menangis tak menerima apa yang telah terjadi. Tiba-tiba seseorang menyenggol-nyenggol tubuhku.
“Apa!!” bentakku
“Ega, Cepat bangun!”
“Eh, kamu fan. Aku sedih fan. Gak di dalam mimpi, gak di kenyataan aku selalu.”
“Oi. Nanti aja curhatnya. Kamu cepat-cepat deh keluar dari mimpi”
“Iya bentar”
Aku pun terbangun dari mimpi. Dan aku gak sadar sudah berada di tengah
lapangan. Seluruh mata tertuju padaku. Jelas saja, Ternyata aku tertidur
saat upacara bendera.
“Mampus aku, kenapa kamu gak bangunin aku dari tadi fan?” bisikku kepada irfan
“Ku kira kamu gak usik tidurnya makannya aku gak bangunin, tadi aku..”
Belum selesai irfan bicara, seorang guru BK mendatangiku.
“Ikut ibu ke ruang BK” Kata Ibu guru
Aku pun di bawa ke ruang BK dengan ibu dewi. Dengan suasana yang
mencekam aku mengikuti ibu itu. saat sampai di ruangannya, musik
kematian pun terdengar, aku semakin merinding, ku masuki ruangan itu, ku
buka pintunya “ngeeeettt” bunyi suara pintu yang sudah tua, ribuan
kelelawar keluar dari dalam, ku masuki lebih dalam. Dan aku terkejut
saat melihat sebuah tengkorak manusia tiba-tiba terjatuh, sontak aku
berteriak.
“AAAAAAAA” dengan suara jeritan cewek
Suara langkah seseorang terdengar dan semakin mendekatiku. Aku semakin takut sambil memeluk tengkorak yang ada di depanku.
“Heh, ngapain kamu disini? Ruang BK itu di sebelah” Dan ternyata ibu dewi yang datang.
“Oia bu, saya lupa”
DI RUANG BK
“Kamu itu baru saja naik ke kelas 3, Masa buat ulah lagi. Kau gak malu dengan adik-adik kelasmu yang baru” kata bu guru
“Saya kan gak buat keributan bu, saya cuma tidur doang” kataku memelas
“Cuma tidur, kamu itu juga ngigau?”
“Maafin saya deh bu, saya kan baru sekali kayak gini”
“Apa kamu bilang baru sekali?” Mata bu guru melotot dan mengeluarkan api di seluruh tubuhnya.
PRAK.. PREK.. PROK.. PLANG.. DUUM..
Akhirnya berakhir dengan hukuman, jalan jongkok di tengah lapangan sambil ngangkat kursi.
Begitulah aku, Namaku Ega Arista, umur 17 tahun, dan aku jomblo ngambang
untuk saat ini, kenapa? Nanti akan ku ceritakan. Aku adalah orang yang
bisa di bilang nakal di sekolah, aku juga serba kekurangan, yah kurang
ganteng, kurang tinggi, dan lain-lain. Tapi kalau masalah mengkhayal,
aku yakin aku yang spesial di antara yang lain, hahaha. Aku juga punya
kelemahan lain, yaitu pelupa. Di sekolah aku memiliki seorang sahabat
yang bernama Irfan. Dia yang paling dekat denganku, dan di sudah ku
anggap sebagai saudaraku sendiri. Dan aku selalu bersama dia kapanpun
dan dimanapun.
Bel pulang sekolah berbunyi, saatnya para siswa pulang ke rumah
masing-masing. Biasanya aku gak langsung pulang. Sepulang sekolah aku
dan irfan nongkrong di tempat langganan kami. Es kepala pak tarjo. Es
kelapa paling sip se jagat. Sampai-sampai ada orang luar negeri yang
beli esnya pak tarjo, ada yang dari amerika, dari china, dari korea, dan
bla.. bla.. bla..
“Hiks.. Hiks..” Aku menangis
“Kenapa kamu ga?” tanya irfan kebingungan
“Pegel monyet, masa aku disuruh jalan 2 kali putaran sama ibu dewi”
“Kan kamu pernah lebih parah daripada itu”
“Oia ya, aku lupa.. hoaaaaa” aku menagis lagi dan lebih keras.
“Gak di dalam mimpi, gak di dunia nyata kenapa aku selalu berakhir tragis”
“Aaahhh.. itu kan jangan patah semangat gitu dong.. sabar bro”
“Iya tapi sampe kapan?”
“Tunggu aja bro, Cinta itu kayak permainan petak umpet, Cintamu pasti
lagi sembunyi di suatu tempat, Dan itu tugasmu buat nyari cintamu”
“Beneran gitu fan”
“Iya dong bro”
“Makasih ya fan, kamu adalah sahabat terbaik yang pernah ku miliki”
Sambil memegang tangan irfan, mata kami saling bertatapan dan kami pun berpelukan.
“Sama-sama ga, hiks. Aku sayang kamu ga”
“Aku juga sayang kamu fan”
Kami pun melepas pelukan kami. Dan aku merasa ganjil kenapa suasana
begitu hening. Dan aku melihat di sekitarku. Orang-orang melihat kami
dengan anehnya. Pak tarjo dengan mulutnya terbuka, teh yang dituangnya
di gelas pun sampai tumpeh-tumpeh. Dan yang lain ada yang pingsan, dan
ada juga yang menjedotkan kepalanya ke tiang listrik sangking tidak
percaya apa yang terjadi. Tiba-tiba ada anak kecil yang menaiki sepeda
datang.
“Om.. Om.. Om berdua pacaran ya?”
Aku dan irfan seperti salah tingkah, Aku membetulkan kerah bajuku yang sudah ku naikkan. Irfan membakar rok*knya tapi terbalik.
“Fan.. Fan.. rok*k fan” Kataku dengan suara yang besar dan berat
“Kita kan gak ngerok*k bro.” kata irfan sambil garuk kepala
“Oia ya, aku lupa.”
“Nah udah sore nih, balik yok” kata irfan sambil bersiap untuk pulang
“Oke deh” Kataku sambil mencari sesuatu
“Apalagi yang hilang?” kata irfan geleng-geleng kepala
“Tasku bro, mana tasku” aku mencari-cari di segala penjuru
“Itu di bahumu tu” Menunjuk ke arah bahuku
“Oia, Aku lupa”
“Ayok, oia nanti malam ya jangan lupa ke taman. Nanti ku jemput.”
“Okey.. aku duluan ya” kataku sambil melambaikan tangan
“Heh, Rumahmu di sana”
“Oia.. aku lupa lagi.. hahaha”
Aku dan bergegas pulang, Irfan naek angkot dan aku jalan kaki. Karena
rumahku lumayan dekat dengan sekolah. Untuk memperpendek jarak, aku
lewat jalan pintas, lewat taman. Dan di situ lagi rame-ramenya. Banyak
orang-orang pacaran. Wajar, karena di taman itu ada danau yang indah
banget belum lagi saat ada sunset, keindahannya bisa bekali-kali lipat,
pokoknya tempatnya romantislah. makanya banyak pasangan disana
memanfaatkan moment itu.
Tapi ada hal yang membuat terkesan setiap lewat di taman itu. Dan
walaupun aku pelupa, entah kenapa kenangan itu masih nyagkut di otakku.
Saat pertama kali bertemu dengan mantanku sewaktu SMA kelas 1. Dan itu
ya namanya yustia.
Saat itu aku sedang duduk di taman sendirian. Sambil memainkan game di
hapeku, lagi kalah-kalahnya main game aku kesal dan mengangkat kepalaku
yang tadinya nunduk sangking seriusnya main game. Dan kisah itu pun di
mulai, Aku liat cewek cantik banget. Seketika mataku menjadi sniper.
Mengeker target yang ada di depanku. Aku sebenarnya pengen nahan buat
kenalan sama cewek itu. Maklum, Karena aku masih mikir apa wajahku yang
pas-pasan ini bisa dapetin tuh cewek. Tapi kayaknya gak bisa, rasa
gelisah sudah di ubun-ubun. Kesempatan gak datang dua kali. Kalau gak
sekarang kapan lagi. Aku lihat cowok yang duduk di bangku sebelahku.
Mulutnya udah berbusa gara-gara ngeliat si cantik itu dan sepertinya dia
udah mau ngambil ancang-ancang buat kenalan sama tuh cewek. Aku gak
tinggal diam, aku kumpulin kekuatanku buat kenalan sama dia. Sampai
badanku terbakar oleh api asmara yang terkobar di dalam diriku. Aku
melangkah dengan pasti mendekati cewek itu. Menghilangkan rasa gugup di
dalam diriku. Namun saat di dekat cewk itu jantung gua berdetak kencang.
Sampai-sampai hampir copot. Perlahan gua memanggil cewek itu.
Dan kata pertama dariku adalah.
“Hai” Kataku dengan nada kaku.
“Iya.. Ada apa?” Balas cewek itu.
Aku langsung bingung mau ngomong apalagi. Seakan kata-kata dia menghipnotisku sampai aku lupa mau berkata apa.
“na.. na.. namamu si.. si.. si.. apa?” Mendadak aku gagap, ini hal teridiot yang pertama kali ku lakukan.
Cewek itu hanya diam dan melihatku dengan wajah heran.
“Namaku ega, ega arista, maaf ya. aku dari tadi ngeliatin kamu terus, abisnya kamu cantik sih”
Dengan cepat aku menutup mulutku. Aku gak sadar apa yang telah
kukatakan. Aku jadi malu setengah mati. Muka ku memerah. Kepalaku
rasanya mau meledak seakan suasana membuat pikiranku jadi kelebihan
beban.
“Aku udah tau kok namamu” kata cewk itu
“Ma.. masa?” jawabku heran, dalam hatiku aku berkata “Kok dia bisa tau namaku, apa jangan-jangan dia peramal, atau”
“Atau apa?” kata cewk itu
“Loh kok kamu bisa baca pikiranku?”
“Pikiranmu terlalu transparan tau”
Aku tambah malu dengan diriku sendiri. Kenapa dia bisa baca pikiranku. Cewek yang hebat. Atau aku yang terlalu aneh.
“Aku tau kamu kok, kamu anak kelas 1 C kan?”
“Loh kok kamu tau?”
“Ya iyalah. Kita sekelas, gila”
“Hahaha.. Hahaha.. Oh gitu, aku lupa..” kataku dengan tertawa maksa.
“Dasar pelupa, Ya udah deh, sampe ketemu di sekolah aja, bentar lagi sore”
“Iya”
Dia melambaikan tangannya padaku, dan dia pun pergi. Bodohnya aku,
kenapa aku lupa menanyakan namanya waktu itu. Sebenarnya aku tau
namanya, tapi dasarnya lupa mau diapain lagi. Walaupun itu memalukan dan
bodoh banget, tapi momen itu gak pernah aku lupa sampai sekarang.
Aku tersenyum mengingat hal yang gak jelas itu. Aku duduk di bangku
yang pernah ku duduki saat aku bertemu yustia. Aku jadi tertawa-tawa
sendiri. Kenangan itu seakan mengelitik tubuhku.
“Pertemuan pertama itu mempunyai kesan yang mendalam”
Aku beranjak dari bangku itu, dan langsung bergegas pulang ke rumah.
Bulan telah menampakkan wujudnya. Irfan telah menungguku di depan
rumah. Irfan memanggil-manggil aku dengan keras. Aku yang santai sontak
kaget, dan langsung bergegas menemui irfan yang ada di bawah.
“Bentar fan” kataku yang terburu-buru menuruni tangga
BRAK!! BREK!! BRUK!!
Aku terjatuh dari tangga karena buru-buru. Benjolan besar dan bertingkat menghiasi kepalaku.
“Kenapa datang fan?” tanyaku
“Oke nice banget bro, Rambut berantakan, muka kusut, baju masih baju
sekolah, terus Cuma pake celana dalam. Kamu mau jalan atau mau ke RSJ”
“Emang ada janji mau jalan yak?” Kataku sambil mencoba mengingat
“Ada monyet!!!!” Irfan memukulku dengan palu yang besar dan entah darimana dia dapat
“Hadeh, Aku lupa. Tunggu bentaran yak” Sambil memegang benjolanku yang sudah kayak pagoda.
Sehabis aku siap, kami pun langsung meluncur ke tempat andalan yang kami datangi setiap minggu. Bakso di tengah taman.
“Hoaaah. Memang bakso disini yang paling the best” Kata irfan sambil menghembuskan asap rok*knya dari mulut
“Oia fan.. kamu masih ingat gak waktu kita nongkrong disini. Terus
ketemu sama yustia? Pas kejadian aneh itu kami mulai dekat ya kan?”
Kataku dengan nada rendah
“Yustia? Kok kamu ingat kalo yang begitu-begitu. Bukannya kamu pengen ngelupain dia?”
“Maunya sih gitu, tapi mau gimana lagi. Bayangannya selalu ada di benakku fan”
Keakrabanku dengan yustia berawal pada malam dimana aku dan irfan
lagi nongkrong di taman sambil makan bakso. Saat itu kami masih belum
ngamen.
“Hoaaah, enaknya baksonya” kataku
“Huuhh, aakoo puengen namboah” kata irfan sambil ngunyah bakso
“Oia fan, aku lagi jatuh cinta nih” kataku dambil mengigit sendok
“Sama siapa bro” tanya irfan
“Yustia” Dengan mengedipkan mataku kepada irfan
“Hah! Kok bisa?” kata irfan yang kaget mendengar namannya sampai-sampai mangkoknya terbang.
“Bisa dok.. hahaha.. DAN AKU MENCINTAINYA!” teriakku
“Siapa yang ngelempar mangkok ini tadi” Kata laki-laki yang berparas
garang dengan tato naga di lengannya. Irfan dengan reflek cepatnya
langsung menuduhku, karena aku tidak tau dan aku juga lupa, jadi aku
hanya tersenyum di depan preman itu. Preman itu mengepalkan tangannya
dan SUUUUIIIINNNGGG. Aku terpental jauh sampai ke depan pohon beringin.
Aku meringis kesakitan dan mengeluh dengan kesialanku. Aku bersandar di
bawah pohon sambil membersihkan kotoran-kotaran yang menempel di
pakaianku. Tanpa disangka ada suara cewek yang aku gak tau darimana
asalnya.
“Loh kok kamu ada disini?”
Aku gugup setengah mati, bulu kudukku berdiri, Keringatku mengucur deras, mukaku menjadi biru.
“Anu.. anu..”
Aku bingung mau jawab apa. Aku takut sampai-sampai aku bisa mengigit
habis kuku tanganku dengan cepat. Dan dalam hatiku aku berkata
“Jangan-jangan ini hantu kuntilanak yang banyak di ceritain orang-orang”
“Aku bukan hantu.. tau..”
“Dia bisa baca pikiranku, pasti dia hantu” kataku dalam hati
Aku memberanikan diri ke belakang, dan ternyata dia adalah yustia. Yustia tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Setelah kejadian itu kami pun mulai akrab, di sanalah aku berani untuk
meminta nomor hapenya yustia dan dia pun memberikan nomornya. Setelah
itu kami pun Smsan, telponan, bahkan mention-mentionan di twitter. Dan
di kelas pun aku selalu godain dia, aku menulis surat di kertas yang ku
olah menjadi bola lalu ku lemparkan ke dia. Begitu manis saat itu.
Aku tersenyum saat menyeritakan momen itu, irfan menghela nafas dan menepuk pundakku.
“Bro, udahlah.. yang lalu biarkan lah berlalu. Biarkanlah kenanganmu itu larut dengan kebahagiaanmu saat ini.”
“Tapi aku bisa melupakannya fan, kenangan itu udah membekas di hatiku”
“Hah.. ya sudahlah.. kamu itu orangnya gak bisa di bilangin.. keras kepala.. ayok pulang.. udah malam”
Sudah tepat jam 10.30 malam, Kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah aku gak langsung tidur, aku mengambil foto di laci meja ku,
foto yustia. Ku pandangi fotonya sambil mengingat kejadian-kejadian yang
ku alami bersamanya. Itu sebabnya aku selalu begadang, hanya karena
galau mengenang mantan. Saat galau aku seperti orang yang gak waras,
melihat fotonya sambil mengajaknya bicara. Lalu aku mengingat moment
dimana aku menembak dia.
Waktu penembakan itu tepat hari rabu pas bel istirahat berbunyi, Aku dan
irfan lagi nongkrong di depan kelas. Aku sedang curhat dengan irfan
tentang kegelisahanku terhadap hubunganku dengan yustia. Wajar saja aku
gelisah, aku sudah 2 bulan pdkt dengan dia, dan kita pun dekat.
Ketakutanku itu bila dia sudah jatuh cinta dengan orang lain.
“Aku mau nembak yustia ah” kataku sambil mikir
“Oia ya, ega, Tembak sudah yustia itu. Nanti keburu diambil orang loh.
Cewek itu sukanya nunggu, dan cowek yang berjuang” mendesak-desakku
sambil mendorong tubuhku
“Iya tapi gimana kalau di tolak, ah, males ah” Kataku yang lemas karena ragu
“Udahlah, masalah di tolak itu urusan belakang yang penting coba dulu.
Mending sekarang daripada ada penyesalan di belakang” makin mendesak
“Terus gimana caranya?” Tanyaku kebingungan
“Tinggal ngomong aku suka kamu, Simple kan? Nah terus kamu buat yang special. Biar berkesan gitu”
“Yang berkesan itu gimana?” aku pun tambah bingung..
Irfan terus mendesakku, Aku seakan kehilangan kendali, aku bingung apa
yang harusku lakukan. Aku memegang kepalaku. Menjerit-jerit dalam hati.
Sangking stressnya aku sampai berguling-guling di lantai. Stress ku
memuncak, tiba-tiba aku mengingat kata-kata irfan tadi “jangan ada
penyesalan” Aku langsung menegapkan badanku dan melangkah pasti ke
cahaya yang entah datangnya darimana di depanku.
“YUSTIA!!! AKU SUKA SAMA KAMU”
Seketika irfan langsung pingsan melihat aku yang berada di tengah
lapangan berteriak seperti itu. Setlah aku berteriak seperti itu, Aku
langsung jadi mati gaya, Wajahku memerah menahan malu. Seisi sekolah
sontak menjadi heboh dan seluruhnya mengarahkan pandangannya kepadaku.
Kata-kata “Cie.. cie” dari anak-anak makin membuat jantungku berdegup
kencang. Yustia yang sedang ada di kelas atas menengokku yang ada di
bawah. Ku ambil kekuatan dari langit, Berharap mendapatkan kekuatan yang
lebih. Tiba-tiba datang seorang bidadari, tapi bidadari ngondek.
“Aduh cin, cucok deh nembak cewek di tengah langah geneh”
“Hoaaaahh.. Hantu taman lawang” kataku yang kaget melihat penampakan bidadari.
“Hahaha. Terima kasih” Kata bidadari
“Itu bukan pujian bodoh” kataku marah-marah
“Apa yang kamu inginkan ganteng?”
“Bidadari tolong aku, aku butuh kekuatan yang lebih untuk pergi ke atas sana”
“Mau gak ya?”
“Tolonglah bidadari, Tolong aku” Kataku sambil bersujud
“Iiiihhh.. santai aja keles, iya deh eke bantuin, Crupat crupat hompimpla gapleh”
“Dengan ini aku pasti akan mendapatkan cinta yustia.. hahahaha” Sambil tertawa ala penjahat
JREEEEEENGGGG.. Dan ternyata gak terjadi apa-apa..
“Loh bidadari kenapa gak terjadi apa-apa?” tanyaku
“Eh.. tunggu aja dulu.. yah 5 menitlah”
5 MENIT KEMUDIAN
“Udah 5 menit nih?” kataku sambil melihat jam
“Mungkin 5 menit lagi”
5 MENIT LAGI KEMUDIAN
“Kapan reaksinya nih?” tanyaku lagi
“Yang sabar dulu ya, mungkin sebentar lagi”
YANG SABAR DULU KEMUDIAN
Bidadari sedang dandan, dan aku tersungkur di tengah lapangan karena capek menunggu lama.
“Belum juga yah?” tanyaku lemas
“Oh.. eke lupa tongkatnya belum di cas.. maaf ya”
“APA!!!” Kataku sambil menundukan kepala dan meremas-remas tangan
SIUUUUUNNNGGG… TIIINNGGG.. Bidadari itu ku pukul sampai ke langit.
Bidadari yang datang pun tidak membantuku apa-apa. Terpaksa aku yang
harus bertindak. Sambil melihat yustia di atas, aku melangkah gagah
menuju ke tempat dia berada.
BRAK! BREK! BRUK!
Karena gak ngeliat jalan aku terpeleset daun pisang. Aku mencari-cari siapa yang membuang sampah sembarangan.
“Siapa yang membuang kulit pisang ini?” tanyaku sambil marah-marah
Dan aku melihat cowok culun berkacamata, beralis tebal, tai lalat di
bawah bibir, rambur belah pinggir dan cendol yang mengantung di bawah
hidung, sedang memakan pisang.
“Oh.. ternyata kamu?” kataku yang mengeluarkan aura hitam
Aku pun melanjutkan perjalananku ke atas dan mengabaikan si culun itu
yang sudah ku masukan ke tempat sampah. Sesampainya di atas, tatapanku
langsung menuju kepada yustia yang berada tepat di depanku. Suasana jadi
hening walaupun banyak anak-anak yang mengelilingi kami.
“Yustia, aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?” Kataku sambil memegang kedua tangan yustia
“Kenapa kamu suka sama aku?” Tanya yustia
Pertanyaan itu menyudutkanku, sampai-sampai orang-orang yang ada di
dalam otakku panik mencari jawabannya. Kepala jadi eror dan berasap.
“mungkin karena kamu cewek, dan aku cowek” Kataku sambil mengaruk-garuk kepala.
“Alasan yang di buat-buat.. hahaha” Yustia tertawa
“Jadi gimana? Kamu nerima aku?” kataku dengan ekspresi sok cool
Yustia hanya menganggukan kepalanya. Itu berarti jawabannya iya. Aku pun
senang bukan main. Anak-anak yang mengelilingiku membunyikan terompet,
di tengah lapangan tiba-tiba banyak yang meneriakkan namaku. Aku pun
melambaikan tanganku layaknya raja. Ku tatap mata yustia, dan kami pun
berciu..
NGEEEEETTTTT…
“Woi, jadi gak nembaknya?” kata irfan yang menyadarkanku saat menghayal
“Kapan? Aku bilang mau nembak?” kataku bingung dengan pertanyaan irfan
“Hadeh, lupa lagi ni orang, kamu kan mau nembak si yustia kan?”
“Oia ya.. Aku lupa.. Malam ini kan aku mau ketemua sama yustia di taman..”
“Kenapa gak bilang dari tadi!” Irfan memakai palunya lagi
“Salahku apa” Lagi-lagi nempel di tembok
Aku pun melancarkan aksiku malam itu, aku mengajak yustia jalan-jalan
ke taman. Aku gugup saat jalan dengan dia, saat jalan-jalan hanya ada
percakapan kecil aja seterusmya hening. Aku mengepalkan tanganku, dan
langsung memegang kedua bahu yustia.
“Yustia, Apa kamu mau jadi pacarku?”
Yustia yang tadi sempat kaget, menjadi tersenyum saat mendengar pertanyaanku.
“Aku udah duga kamu pasti mau bilang gitu”
“Jadi kamu terima aku?” kataku
Yustia menjauhkan kedua tanganku dari bahunya, lalu dia menundukan kepalanya.
“Maaf ga, aku gak bisa nerima kamu”
Aku terkejut dengan penolakan yustia, Aku jadi bingung kenapa ini bisa
terjadi, padahal aku udah genjar banget dekatin yustia, dan kami udah
deket banget, belum lagi yustia selalu memberikan sinyal yang positif.
Aku mengambil nafas yang dalam untuk menurunkan emosiku yang mulai naik.
“Aku ingin tau alasannya?”
Yustia hanya terdiam, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Yustia jawab aku?” Dengan nada yang keras
“Sebaiknya kamu lupakan aku, dan mencari yang lain” Kata yustia yang
mulai berjalan melewatiku dengan kepalanya yang belum terangkat.
Sebelum dia sepenuhnya melewatiku, Aku menangkap tangannya mencegah dia pergi. Kami pun saling membelakangi.
“Kenapa? Haruskah aku mencari lagi? Haruskah aku melupakanmu yang sudah terpatri di hatiku? Kenapa?”
Air mataku menetes menahan luka yang baru saja menyayat hatiku, dan kami seakan membatu. Tak bergerak sedikit pun.
“Maaf” kata yustia
Aku pun melepaskan tangannya. Dan membiarkan yustia berlahan pergi.
Belum jauh dia meninggalkan aku. Aku membalikkan badanku dan berkata
“Aku akan selalu menunggumu disini untuk mendapatkan jawaban pasti”
Yustia tak berpaling, dia semakin jauh meninggalkanku sampai hilang dari pandanganku.
Dan begitulah acara menembakku, Setelah saat itu, aku tidak pernah
melihatnya lagi. Aku selalu menghubunginya setiap waktu namun hasilnya
nihil, nomornya gak aktif. Di sekolah pun di gak pernah terlihat. Aku
bertanya kepada teman-temannya tapi semuanya gak tau keberadaan yustia
sekarang. Aku galau setiap hari di buatnya. Aku selalu mencarinya setiap
waktu, hingga saat ini, aku selalu menunggunya di bangku taman waktu
pertama kali kami bertemu.
Suatu malam aku berjalan menuju tempat biasa, tempat dimana aku
selalu menunggu yustia. Belum sampai di sana, Aku berhenti di tengah
perjalanan karena melihat sesorang yang ada di hadapanku.
“Yustia?” Terkejutnya aku saat melihat yustia berada tepat di hadapanku.
“Apa kamu gak lelah menunggu disini?” Kata yustia sambil tersenyum.
“Tidak ada kata lelah untuk wanita yang ku cintai” Kata sambil membalas senyum yustia
“Kenapa kamu gak melupakan aku?”
“Aku gak akan melupakanmu, Apapun yang terjadi. Setelah kejadian dulu,
Aku benar-benar kehilangan arah, Aku layaknya orang yang tersesat di
padang ilalang tanpa ujung. Aku merasa hampa tanpamu yustia, Siapa lagi
yang akan mewarnai hari-hariku yang monoton ini kalau bukan kamu. Aku
gak bisa hidup tanpamu yustia dan aku mencintaimu”
Yustia tersenyum tapi matanya meneteskan air mata.
“Maaf, aku gak bisa lama-lama. Aku pergi.. Daaaah”
Yustia pun pergi, aku ingin menahannya namun entah kenapa kakiku serasa
gak bisa bergerak. Mulutku serasa terkunci. Namun terlihat yustia
berhenti sejenak lalu berkata
“Aku juga mencintaimu, Ega”
Hatiku yang dulunya terluka serasa telah terobati mendengar kata-kata dari yustia. Dan aku begitu gembira banget saat itu.
Keesokan harinya, Aku bercerita dengan irfan di sekolah.
“Fan, Aku tadi malam ketemu yustia loh di taman” Dengan wajah gembira
“Oia sampai lupa, Aku udah dapat alamat barunya yustia” irfan memberikan secarik kertas kepadaku
“Ih hebatnya, hari ini habis pulang sekolah kita kesana. Oke!” Kataku mengebu-gebu sangking senangnya
Sesampai di rumahnya, aku mengetuk-ngetuk pintu. Tapi gak ada respon
dari dalam rumah. Aku dan irfan pun duduk di terasnya, sambil menunggu
yustia, siapa tau saja dia sedang di luar rumah dan perjalanan mau
pulang. Namun selang berapa menit kemudian pintu rumah yustia terbuka.
Wajah begitu senang saat pintu itu terbuka, Dan yang membuka pintu
adalah ayahnya yustia.
“Ngapain kamu disini?”
“Saya mau ketemu yustia pak. Yustianya ada?”
“Yustia sudah meninggal 2 tahun yang lalu, Karena penyakit kanker yang dideritanya” Kata ayahnya yustia dengan nada lemas.
Aku shock mendengar itu, air mataku pun tak tertahan lagi. Aku menangis
mendengar kenyataan yang terjadi. Irfan pun menenangkanku dengan
merangkulku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar